Bobby Nasution Ungkap Dugaan Oknum Kajari Minta Uang Kepala Sekolah, Nominal Rp5–10 Juta

Medan, SUMATERA UTARA — Pernyataan Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution soal dugaan permintaan uang oleh seorang oknum Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) di Sumatera Utara kepada sejumlah kepala sekolah kembali menjadi perhatian.

Bobby mengungkap persoalan tersebut saat masih menjabat Wali Kota Medan. Menurut dia, permintaan uang itu disampaikan kepada kepala sekolah di lingkungan Pemerintah Kota Medan dengan nominal yang disebut mencapai Rp5 juta hingga Rp10 juta.

Pengungkapan itu disampaikan Bobby dalam acara Launching dan Penandatanganan Jaksa Sahabat Pendidik di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro, Medan, Selasa (6/10/2026).

Bobby mengatakan, informasi tersebut pertama kali diterimanya dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan. Saat itu, sang kepala dinas melaporkan adanya guru yang mengaku dimintai uang oleh oknum Kajari.

“Saya ingat, Pak, totalnya ada yang Rp5 juta, ada yang Rp10 juta,” ujar Bobby.

Persoalan tersebut kemudian langsung direspons Bobby.

Kebetulan pada hari yang sama Bobby dijadwalkan bertemu dengan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati). Ia mengetahui Kajari yang dimaksud juga akan hadir dalam kegiatan tersebut.

Bobby kemudian menghubungi Kajari tersebut melalui telepon.

Dalam percakapan itu, Bobby mengaku menawarkan agar kepala sekolah tidak dibebani permintaan uang. Bahkan, ia menyatakan siap menyiapkan uang tersebut dan menyerahkannya langsung di hadapan Kajati.

“Kalau boleh saya siapkan sekarang,” kata Bobby, menirukan ucapannya kepada Kajari tersebut.

Bobby menyebut, setelah komunikasi itu, kepala sekolah akhirnya tidak jadi dimintai uang.

Namun, persoalan tersebut disebut berdampak terhadap hubungan kelembagaan.

Bobby mengakui hubungan Pemerintah Kota Medan dengan Kejari yang dimaksud kemudian menjadi renggang.

Identitas Kajari Masih Dirahasiakan

Meski mengungkap dugaan tersebut secara terbuka, Bobby tidak menyebut nama Kajari maupun satuan kerja Kejaksaan Negeri yang dimaksud.

Ia juga tidak mengungkap tahun kejadian.

Sikap tersebut membuat detail penting mengenai peristiwa itu belum diketahui publik, termasuk siapa saja yang disebut dimintai uang, berapa jumlah kepala sekolah yang terlibat, serta dalam konteks apa permintaan uang tersebut disampaikan.

Dalam acara yang sama, Bobby menyebut Kajati sempat menanyakan apakah masih terdapat jaksa yang meminta uang atau mengganggu kepala sekolah.

Bobby menduga kondisi tersebut saat ini sudah tidak terjadi.

Berpotensi Jadi Perhatian Publik

Pernyataan seorang kepala daerah mengenai dugaan permintaan uang oleh aparat penegak hukum tentu menjadi perhatian serius, terlebih cerita tersebut berkaitan dengan kepala sekolah dan lingkungan pendidikan.

Namun, karena Bobby tidak menyebut identitas pejabat maupun waktu kejadian, informasi mengenai dugaan tersebut belum dapat diuji secara terbuka melalui keterangan dari pihak yang dituding.

Karena itu, publik masih menunggu apakah akan ada penjelasan lebih lanjut mengenai siapa oknum Kajari yang dimaksud, apa dasar permintaan uang tersebut, apakah ada pihak yang menyerahkan uang, serta apakah pernah dilakukan pemeriksaan atau penanganan internal atas peristiwa tersebut.

Hingga informasi mengenai identitas dan kronologi lengkap dibuka, pernyataan Bobby tersebut perlu ditempatkan sebagai pengakuan atau keterangan yang disampaikan oleh Bobby Nasution, bukan sebagai kesimpulan bahwa tindak pidana telah terbukti.