Kunjungi Brigif 18/Trisula, Menko Polkam Tekankan Profesionalisme Prajurit dan Cinta Tanah Air

Malang, JAWA TIMUR — Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago menegaskan bahwa pembentukan prajurit elite harus ditempa melalui disiplin, profesionalisme, dan kesiapan tempur yang terus ditingkatkan setiap saat. Hal tersebut disampaikannya saat memberikan pengarahan kepada para perwira satuan jajaran Divisi Infanteri 2 Kostrad di Markas Brigif 18/Trisula, Malang, Minggu (15/2/2026).

Dalam arahannya, Menko Polkam menekankan bahwa Kostrad merupakan pasukan pemukul strategis yang digerakkan saat negara menghadapi situasi kritis. Karena itu, Brigif 18/Trisula sebagai bagian dari kekuatan inti Kostrad dituntut selalu siap tempur, bergerak cepat, dan memiliki daya gempur tinggi. “Kostrad bukan satuan biasa. Ini adalah pasukan strategis yang digerakkan saat negara berada dalam kondisi genting. Pasukan elite dibentuk dan dilatih setiap hari, bukan saat menjelang adanya operasi. Tidak ada toleransi untuk kelalaian sekecil apa pun,” tegasnya.

Ia menambahkan, disiplin tinggi dalam setiap aktivitas menjadi fondasi utama pembentukan karakter prajurit yang tangguh dalam berbagai kondisi. Kesalahan kecil di medan tempur, menurutnya, dapat berujung pada kegagalan besar.

Menko Polkam juga menyoroti pentingnya kepemimpinan yang kompeten, berkarakter, serta memiliki kecintaan kuat terhadap tanah air. Seorang pemimpin, kata dia, harus memahami kemampuan bawahannya dan terus mendorong peningkatan kapasitas satuan.

“Pasukan elite ditandai oleh pemimpin yang hadir di depan, bukan di belakang. Rantai komando harus tegas, jelas, dan dihormati seluruh anggota satuan. Kualitas satuan sangat ditentukan oleh kualitas para perwira yang memimpinnya. Di tengah dinamika dan eskalasi politik global yang sulit diprediksi, profesionalisme prajurit menjadi faktor penentu dalam menjaga stabilitas nasional,” ujar Menko yang pernah menjabat sebagai Danbrigif Linud 18/Trisula ke-16 pada tahun 1992-1993.

Ia juga mengingatkan bahwa berbagai konflik global menjadi pelajaran penting agar bangsa Indonesia tetap kuat dan kompak. Prajurit, tegasnya, harus senantiasa mencintai tanah air dan bersinergi menjaga keutuhan bangsa, baik dari ancaman internal yang memecah belah persatuan maupun ancaman eksternal.

Dalam kesempatan tersebut, Menko Polkam mengaku memiliki kedekatan emosional dengan Brigif 18/Trisula karena pernah bertugas dan ditempa di satuan tersebut sebagai Kepala Staf Brigade dan Komandan Brigade. Ia menyampaikan rasa bangganya terhadap prajurit Brigif 18/Trisula sebagai bagian inti kekuatan Divisi 2/Kostrad.

Selain peningkatan kemampuan tempur melalui latihan rutin, ia juga menekankan pentingnya penguasaan teknologi modern sebagai bagian dari transformasi kekuatan pertahanan. “TNI tidak hanya harus unggul di medan perang, tetapi juga menguasai teknologi dan hadir di tengah masyarakat untuk memberikan dampak kesejahteraan,” tegasnya.

Sejalan dengan arahan Presiden, Menko Polkam menegaskan bahwa TNI harus hadir di tengah masyarakat, termasuk dalam penanganan bencana banjir di Sumatera. Kehadiran prajurit dalam membantu masyarakat merupakan bukti nyata bahwa negara hadir dalam setiap kesulitan rakyat. Ia juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga kekompakan dan bekerja sama menyukseskan berbagai program prioritas pemerintah, seperti SPPG, Sekolah Rakyat, Pengobatan Gratis, dan Koperasi Merah Putih, demi kesejahteraan masyarakat yang lebih luas.

Di akhir pengarahannya, Menko Polkam kembali menekankan pentingnya peningkatan profesionalitas melalui latihan dan kompetisi sehat antar-satuan. “Prajurit yang handal lahir dari kompetisi yang sulit. Dan yang utama tidak ada titik berhenti dalam pengabdian kepada negara. Sebelum tembakan salvo berbunyi, pengabdian seorang prajurit belum berakhir,” pungkasnya.

Kunjungan ini turut dihadiri Sekretaris Kemenko Polkam Letjen TNI Mochammad Hasan, para Deputi Kemenko Polkam, Panglima dan Kepala Staf Divif 2 Kostrad Mayjen TNI Syaiful Sulun dan Brigjen TNI Septaviandi, Danbrigif 18/Trisula Letkol Inf Paulus Pandjaitan, serta jajaran perwira Divisi 2/Kostrad.

Demikian SIARAN PERS NO. 52/SP/HM.01.02/POLKAM/2/2026 yang kami terima.

Talaud Membara: Ratusan Warga Serbu Mako Lanal Melongguane Pasca-Penganiayaan Guru oleh Oknum TNI AL

KEPULAUAN TALAUD – Suasana di Kepulauan Talaud mencekam setelah ratusan warga nekat menyerbu Markas Komando Lanal (Mako Lanal) Melongguane. Aksi massa ini memicu bentrokan fisik dengan prajurit TNI AL sebagai buntut dari dugaan penganiayaan brutal yang dilakukan oknum prajurit terhadap warga sipil, termasuk seorang guru.

Kronologi: Berawal dari Teguran Berujung Petaka

Insiden bermula saat sekelompok warga tengah memancing dan terganggu oleh teriakan gaduh sekelompok orang yang diduga dalam pengaruh alkohol (mabuk). Saat dihampiri dan ditegur, kelompok yang ternyata merupakan oknum prajurit TNI AL tersebut justru bereaksi anarkis.

Bukannya mereda, aksi kekerasan justru meluas. Korban yang awalnya satu orang merembet hingga total enam warga sipil menjadi sasaran pengeroyokan. Salah satu korban diketahui merupakan seorang tenaga pendidik (guru) yang mengalami luka-luka serius.

Massa Kepung Markas, Situasi Chaos

Tak terima dengan perlakuan tersebut, keluarga korban dan ratusan warga mendatangi Mako Lanal Melongguane untuk menuntut keadilan. Namun, ketegangan justru memuncak di gerbang markas hingga pecah bentrokan antara warga dan prajurit.

“Masyarakat sudah melapor resmi ke Polres dengan jumlah terduga pelaku sebanyak enam orang,” konfirmasi Kapolres Kepulauan Talaud, AKBP Arie Sulistyo Nugroho, Sabtu (24/1).

Video amatir yang memperlihatkan detik-detik penyerbuan tersebut kini viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, tampak massa yang beringas terlibat aksi saling dorong dan baku hantam dengan prajurit, sementara aparat kepolisian berusaha keras menengahi di tengah kerumunan.

Pemerintah Daerah Turun Tangan

Melihat situasi yang semakin tidak kondusif, Wakil Bupati Kepulauan Talaud, Anisya G. Bambungan, langsung terjun ke lokasi untuk meredam kemarahan warga.

“Tindakan ini harus saya lakukan karena keadaan sudah sangat tidak kondusif. Jika dibiarkan, bentrok akan semakin meluas dan berdampak fatal,” tegas Anisya saat berupaya menenangkan massa yang emosional.

Pemerintah daerah mendesak pihak TNI AL untuk melakukan pengusutan tuntas secara transparan dan memberikan hukuman setimpal kepada para oknum yang terlibat. Saat ini, kasus tersebut telah masuk dalam penanganan hukum Polres Kepulauan Talaud dan diharapkan tidak memicu konflik horizontal yang lebih besar.