Dunia Terguncang: Pemimpin Tertinggi Iran Syahid dalam Serangan Gabungan AS-Israel, Selat Hormuz Resmi Ditutup

TEHERAN / TEL AVIV / WASHINGTON D.C. – Timur Tengah berada di ambang perang total setelah eskalasi militer besar-besaran melanda kawasan tersebut dalam 48 jam terakhir. Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan jantung pemerintahan Iran dilaporkan telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, memicu balasan rudal balistik Iran yang menghantam Tel Aviv dan fasilitas strategis di negara-negara Teluk.

Eskalasi “Operation Lion’s Roar”

Konflik pecah pada 28 Februari 2026, ketika militer AS dan Israel meluncurkan operasi militer bersama berskala besar bertajuk “Operation Lion’s Roar”. Operasi ini menggunakan kombinasi jet tempur siluman dan rudal jarak jauh yang menyasar pangkalan militer, fasilitas pertahanan udara, serta kompleks kepemimpinan di Teheran.

Pemerintah Iran segera merespons dengan meluncurkan gelombang rudal balistik dan armada drone ke wilayah Israel serta pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Teluk, menandai konfrontasi langsung paling berdarah dalam sejarah ketiga negara tersebut.

Laporan Syahidnya Puncak Kepemimpinan Iran

Media pemerintah Iran dan pengamat internasional telah mengonfirmasi kabar yang mengguncang dunia: Ayatollah Ali Khamenei, yang telah memimpin Iran sejak 1989, dinyatakan syahid. Beliau syahid setelah serangan presisi menghantam kompleks kediamannya di Teheran. Laporan menyebutkan sejumlah pejabat tinggi dan anggota keluarga temasuk cucunya ikut menjadi korban dalam insiden tersebut.

Selain itu, laporan yang masih berkembang mengindikasikan bahwa mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad turut tewas dalam serangan di ibu kota. Hingga saat ini, otoritas internasional masih melakukan verifikasi lebih lanjut terkait status Ahmadinejad.

Krisis Kemanusiaan: Sekolah dan Rumah Sakit Terhantam

Data terbaru dari Palang Merah Iran mencatat setidaknya 201 orang tewas dan 747 lainnya luka-luka akibat serangan udara di berbagai provinsi. Konflik ini telah meluluhlantakkan infrastruktur sipil:

  • Tragedi Minab: Sebuah sekolah dasar putri di Minab, Iran, hancur total akibat hantaman rudal, menyebabkan puluhan hingga ratusan siswi menjadi korban jiwa dan luka-luka.
  • RS Gandhi Teheran: Rumah sakit ternama di ibu kota ini mengalami kerusakan struktural signifikan. Pasien terpaksa dievakuasi di tengah ledakan, dan layanan medis lumpuh total.
  • Serangan Balasan di Tel Aviv: Rudal Iran berhasil menembus sistem pertahanan dan menghantam kawasan padat penduduk di Tel Aviv, menyebabkan korban jiwa warga sipil serta kerusakan bangunan yang luas.

Dampak Ekonomi Global: Selat Hormuz Lumpuh

Menanggapi agresi tersebut, Garda Revolusi Iran (IRGC) secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Jalur pelayaran yang merupakan urat nadi pasokan energi dunia tersebut kini dinyatakan sebagai zona terlarang bagi kapal komersial.

Langkah ini langsung memicu kepanikan di pasar komoditas global. Selain itu, fasilitas transportasi udara di Uni Emirat Arab, termasuk bandara di Abu Dhabi dan Dubai, mengalami kerusakan terminal dan pembatalan penerbangan massal akibat serangan rudal yang menyasar pangkalan di sekitarnya.

Reaksi Internasional

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyerukan gencatan senjata segera untuk mencegah “kiamat regional”. Negara-negara besar mendesak semua pihak menahan diri, mengingat gangguan pada pasokan minyak global dapat memicu resesi ekonomi dunia yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Situasi di Teheran dan Tel Aviv saat ini masih sangat dinamis dengan sirene udara yang terus terdengar di beberapa titik. Komunitas internasional kini menunggu langkah selanjutnya dari struktur kepemimpinan darurat Iran pasca-wafatnya Khamenei. (Red)

Berita terkait : Innalillahi Wainna Ilaihi Raajiun, Ayatollah Ali Khamenei Dilaporkan Syahid dalam Serangan AS – Israel di Teheran

Innalillahi Wainna Ilaihi Raajiun, Ayatollah Ali Khamenei Dilaporkan Syahid dalam Serangan AS – Israel di Teheran

Teheran — Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan syahid dalam serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang menghantam ibu kota Iran, Teheran. Kabar tersebut diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan dikonfirmasi oleh sejumlah media Iran serta internasional.

Serangan yang terjadi pada Sabtu (28/2/2026) tersebut dilaporkan menargetkan kompleks kediaman Ayatollah Khamenei di Teheran, dengan puluhan bom dijatuhkan. Media Iran menyebutkan sejumlah anggota keluarga Khamenei, termasuk putri dan cucunya, turut menjadi korban.

Pernyataan resmi disampaikan oleh stasiun televisi pemerintah Iran IRIB, yang menyatakan Khamenei telah “mencapai syahid”. Konfirmasi serupa juga disampaikan kantor berita Tasnim dan Fars, serta dilaporkan oleh Al Jazeera dan CNN International.

Sebagai respons, pemerintah Iran menetapkan 40 hari berkabung nasional dan tujuh hari libur nasional.

Riwayat Singkat

Profil Ayatollah Ali Khamenei: Dari Santri Mashhad Hingga Menjadi Arsitek Kekuatan Iran

Perjalanan hidup Ayatollah Ali Khamenei bukan sekadar catatan biografi seorang pemuka agama, melainkan cerminan dari transformasi politik Iran modern. Lahir di kota suci Mashhad pada 19 April 1939, pria yang kini memegang otoritas tertinggi di Republik Islam Iran tersebut tumbuh dalam kesederhanaan di bawah asuhan Sayyed Javad Khamenei, seorang ulama yang memegang teguh prinsip hidup rendah hati.

Akar Pendidikan dan Benih Revolusi

Pendidikan awal Khamenei dimulai dari maktab tradisional, tempat ia pertama kali mengenal alfabet dan Al-Qur’an. Ketertarikannya pada teologi membawanya ke seminari di Mashhad, khususnya di sekolah agama Soleiman Khan dan Nawwab. Di sana, ia mengasah kemampuan logika, filsafat, dan yurisprudensi Islam di bawah bimbingan langsung ayahnya serta sejumlah ulama besar.

Titik balik kesadaran politiknya muncul saat ia remaja, ketika terpapar oleh pidato-pidato berapi-api Nawwab Safavi. Sosok ulama tersebut merupakan penentang keras kebijakan Shah Iran yang dianggapnya anti-Islam. Semangat perlawanan ini kemudian mengkristal pada tahun 1962, saat Khamenei memutuskan bergabung dengan barisan pendukung Imam Khomeini untuk menentang rezim Shah yang pro-Barat.

Dedikasi dan Penindasan Politik

Selama 16 tahun sebelum jatuhnya rezim Shah, Khamenei menjadi figur penting dalam gerakan bawah tanah. Keberaniannya membuat Imam Khomeini memercayainya untuk menjalankan misi-misi diplomatik rahasia di antara para ulama besar. Namun, aktivitas ini membuatnya menjadi target utama SAVAK (polisi rahasia Iran kala itu).

Catatan perjuangannya diwarnai dengan serangkaian penindasan:

  • Penahanan: Mendekam selama berbulan-bulan di Penjara Gabungan Polisi-SAVAK di Teheran.
  • Pembatasan: Dilarang memberikan ceramah umum atau membuka kelas teologi setelah bebas.
  • Pengasingan: Menjalani masa pembuangan selama tiga tahun akibat aktivitas politiknya yang terendus intelijen.

Meskipun ditekan, ia tetap konsisten menggerakkan demonstrasi massal hingga revolusi benar-benar meletus dan meruntuhkan monarki pada tahun 1979.

Memimpin di Tengah Kecamuk Perang

Pasca-revolusi, peran Khamenei semakin krusial. Sebelum menduduki kursi pemimpin tertinggi, ia menjabat sebagai Presiden Iran selama periode 1980-an yang penuh gejolak akibat perang dengan Irak. Pengalaman memimpin negara di tengah isolasi internasional—di mana negara-negara Barat mendukung Saddam Hussein—menjadi faktor kunci yang membentuk skeptisisme mendalamnya terhadap Amerika Serikat dan sekutunya.

“Konflik berkepanjangan dan rasa isolasi selama perang Irak memperdalam ketidakpercayaan Khamenei terhadap pengaruh Barat.”

Estafet Kepemimpinan Tertinggi

Tahun 1989 menandai babak baru bagi Iran. Setelah wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini, Ali Khamenei terpilih untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Di bawah kendalinya, Iran membangun struktur militer dan paramiliter yang solid, memperkuat posisi negara tersebut sebagai pemain kunci dalam geopolitik Timur Tengah hingga hari ini. (Red)